— Selamat jalan papa…aku mencintaimu..
[untuk mengenang seorang papa terkasih yang Tuhan kirimkan bagiku : B.Pasaribu, tutup usia 68 tahun pada tanggal 16 Oktober 2008]
…TUHAN yang memberi, TUHAN yang mengambil, terpujilah nama TUHAN! (Ayub 1:21)
Aku tahu papa susah tidur kalo tidak mendengar kabarku, ia akan gelisah dan meminta kakakku untuk meneleponku.. yang pertama ia katakan adalah “..boruku, jam berapa di London sekarang? Kamu baik2 ajah kan?” Kalau papa rindu dan ingin bicara ia akan berbicara padaku kapan saja ia ingin melakukan itu dan aku sangat menyukai hal itu.
Tahun 1983, papa menjadi seorang driver minibus “Sutra”, bus kecil antar kota dalam propinsi di Sumatera Utara. Itu sebabnya papa memberikan nama itu padaku sebagai middlename dan Pasaribu sebagai family name. Ada ikatan yang kuat yang terjalin antara papa dan aku. Setiap papa sakit, aku juga sakit dan sebaliknya. Tahun 1992, sebuah jarum menusuk kaki kiriku kemudian patah dan meninggalkan ujungnya yang tajam, itu sangat menyakitiku. Aku tidak tahu apa yang papa rasakan dalam perjalanannya, padahal setahuku papa keluar kota mengendarai bus-nya, tapi yang kulihat adalah papa sudah ada disampingku memegangi tanganku saat pisau operasi ditangan dokter membedah kakiku, ditemani mama dan kakak2ku.
Papa sudah merasakan sakit liver sejak aku melakukan tugas akhir di Papua, papa menelponku dan mengatakan kalau papa berhenti bekerja tapi akan selalu mendukungku untuk tetap sekolah. Papa dan mama adalah pahlawan yang selalu mendukungku untuk sekolah.
Papa dirawat di RS. Santa Elisabeth Medan beberapa hari sebelum pesta Natal 2007 dimulai. Ia merasakan sakit itu lagi, aku memegangi tangannya selama papa berbaring. Ia memintaku pulang ke rumah untuk istirahat. Tapi aku tidak bisa melakukan itu sekalipun aku sangat mengantuk dan kelelahan. Aku selalu duduk disamping tempat tidurnya dan mengatakan kalau aku dan Tuhan Yesus mencintainya dan tidak mau pulang sebelum papa pulih..kemudian papa tersenyum. Papa dinyatakan pulih dan pulang ke Sidikalang, my lovely hometown.
Papa sangat mencintai Tuhan, walau terkadang papa tidak tahu bagaimana ia harus melakukannya. Aku sangat bahagia merayakan Natal 25 Desember 2007 bersama papa di gereja, di kampung halamanku. Papa memakai jas stelan yang dipakainya sewaktu aku wisuda tahun 2006. Katanya ia sangat menyukai jas itu, coklat kemerahan warnanya. Lalu kami berdoa bersama dan memakan kue2 natal. Natal yang sangat istimewa..Natal terakhir bersama papa.
Awal tahun 2008, dengan mantap papa meneleponku ke Jakarta dan mengatakan, “..boruku, kamu harus berangkat sekolah ke Inggris, kita serahkan semua pada Tuhan.” Itu yang membakar semangatku untuk sekolah ke Inggris. Aku meminta papa dan mama datang ke Jakarta, mama mengiyakannya karena bulan April 2008 mama pensiun sebagai guru SD, tapi berbeda dengan papa, ia agak ragu menjawabnya. Bulan Juli 2008, papa menelponku dan mengatakan siap terbang bersama mama ke Jakarta.
Kami berjalan2 di Jakarta dan mengunjungi tempat2 rekreasi di Jakarta. Tapi, papa sakit lagi dan dirawat di RS. Serang, tempat dimana kakakku bekerja sebagai perawat Hemodialisis. Aku merasa sedikit tenang karena ada mama, kak Ganda dan bang Heri menjagainya. Dukungan doa selalu mengalir dari keluarga, teman dan rekan2 kerja. Setiap weekend aku pulang pergi Jakarta-Serang dan aku selalu merindukan hari Jumat tiba. Papa akan menyambutku dengan senyuman dan pelukannya, walau ia terbaring lemah. Kami akan menyanyikan lagu “Bapa sentuh hatiku”, papa juga mintaku mengoleskan minyak urapan dan menggaruk punggungnya. Papa dan mama paling suka lagu gereja “Ho tongtong ihuthonnonku”, selalu menyanyikannya lebih dari 3 ayat (walau saya paling hapal satu ayat lagu..bahasa Batak nih… J) dan kebaktianpun dimulai.
Aku mengantarkan papa dan mama ke bandara Soekarno Hatta setelah hampir 2 bulan kami menikmati kebersamaan yang bagiku terasa singkat sekali. Aku menangis selama di bandara, ada rasa berat yang amat sangat saat melepas keberangkatan papa ke Medan. Aku memegang tangannya, terasa hangat (ternyata itu terakhir kalinya aku merasakan kehangatan kedua tangannya) dan kukatakan, “..papa, tunggu aku pulang dari Inggris September tahun 2009, kalau papa tidak bisa datang ke Inggris melihatku wisuda, setidaknya papa akan datang menjemputku di bandara Soekarno-Hatta…” Papa jarang menangis, seingatku ia menangis saat ompung meninggal. Tapi kali ini papa menangis di kursi rodanya dan tidak mengatakan apa2 kecuali memandangiku sampai ia memasuki gerbang untuk check-in dan kemudian mengatakan “Tuhan memberkatimu, boruku..”
Dua minggu lalu, papa kembali dirawat di RS.Adam Malik Medan. Kakakku menelponku dan mengatakan papa sakit. Aku sudah menduganya, sebab aku gelisah sehari sebelumnya, banyak mimpi yang menggangguku terus menerus. Aku menelpon keluarga di Medan dan berbicara dengan papa. Suara papa kecil dan lemah, selemah hatiku yang bertahan utk tidak menangis. Papa mengatakan ingin dibawakan bendera Inggris dan baju yang bertemakan kampus Royal Holloway. Aku katakan padanya sekali lagi, “ papa, tunggu aku yah tahun depan, aku akan pulang dan membawakannya buat papa..”. Papa tidak menjawab apa2. Saat itu, aku ingin sekali berada disamping papa dan memegangi tangannya. Aku berdoa dan menangis… Tuhan tahu tentang itu. Aku kehilangan handphone minggu lalu di London Waterloo—aku kehilangan semua nomor hp teman2ku, kemudian segera berangkat fieldtrip ke Dunster dan Devon (UK). Ini ujian berat bagiku, sulit signal dan internet access. Aku mendengar suara papa untuk yang terakhir kalinya lewat telpon saat breakfast di Dunster, selasa 14 Oct 2008. Papa mengatakan dengan suara yang lemah dan terputus-putus kalau papa sudah makan dan sedang dipegang oleh mama, kak Santy dan bang Tatar di mobil yang membawanya dari Medan ke Sidikalang. Hatiku sangat sedih sekali, aku ingin sekali turut memegang tangannya dan mengatakan bahwa ia akan baik2 saja. Aku katakan padanya kalau aku sedang di lapangan dan aku mencintainya. Aku juga katakan pada mama untuk tetap menjagai papa, meskipun aku tahu pasti kalau mama selalu setia menjagai papa.
Singkapan2 geologi yang indah dan menawan menyita perhatianku sejenak sehingga aku tetap bisa menjalani fieldwork dengan tenang. Rabu 15 Oct 2008, kami meninggalkan Dunster dan bergerak kearah Devon. Aku menangis selama dalam perjalanan. Aku berharap dalam doa papa akan baik2 saja. Hotel tempat kami Petroleum System 2008 menginap adalah tempat yang indah, pantai dan laut lepas di baratdaya Inggris. Laut lepas yang merupakan bagian dari Laut Atlantik Utara yang mengingatkan saya akan kapal Titanic yang tenggelam disana. Devon adalah tempat yang indah namun sayang sekali, di daerah ini tidak ada signal HP dan internet access, jadi ini tempat yang dingin dan terisolasi. Telepon hotel saja satu2nya alat komunikasi jika ingin berhubungan dengan daerah lain.
16 Oct 2008, pagi buta..aku terbangun sebanyak 2 kali karena selimutku terjatuh ke lantai. Aku heran, siapa yang menarik selimutku? Teman satu kamarku yang juga teman satu kelasku, Nisa, berasal dari Brunei. Ia teman yang baik, ia terlihat tidur pulas di ranjangnya sendiri. Kami sama2 kelelahan bekerja di lapangan seharian, lagi pula Winter 2008 ini membuat kami beku kedinginan. Jadi tidak mungkin Nisa usil padaku… strange.. Saya berdoa dan tertidur.
Jam 8 pagi (UK time), aku dan Nisa bersiap2 membereskan peralatan lapangan.. tiba2 seorang ibu datang mengetuk pintu kamar dengan tergesa2. Ia mencariku dan mengatakan “could you go with me?” Aku menjawabnya penuh tanya, “..yes, sure, but what happened?” Ia terlihat gemetar..membuatku semakin gelisah. I followed her through the private room. Sambil berjalan ia mengatakan pada saya bahwa ada telepon dari Pak Soeryo (yang selama ini menjadi teamleader sekaligus sahabat bagi saya), telepon itu datang sekitar jam 5 pagi (UK time) and left a mobile number. Saya menekan tombol2 di telepon dengan gemetar. Papa yang pertama hadir dalam pikiran saya.. Tuhan tolonglah..
Pak Soeyo menanyakan kabar saya di telpon.. kemudian menyampaikan kabar duka itu… “Dumex, Ayah kamu telah dipanggil oleh Tuhan tadi pagi jam 5.30 ..” Saya diam.. cukup lama sampai saya mendengar pak Soeryo memanggil nama saya di telpon. Saya menangis didepan telpon tdk terbendung lagi. Saya ingin jatuh rasanya. Ada Neil datang mendampingi saya, kemudian Chris Elders, dosen Postgraduate, datang juga mendampingi saya. Saya serahkan telepon pada Chris untuk berbicara pada pak Soeryo. Saya menangis semakin kuat, terbayang wajah mama dan kakak2 saya yang saat itu juga bersedih di Indonesia… Ibu yang memanggilku dari kamar memberikan tissue dan memelukku. Aku bisa merasakan pelukan seorang ibu yang membuatku lebih tenang. “I’m so sorry for this lost, I can understand what do you feel right now..I’m so sorry..” Ia mengatakan itu padaku dengan penuh kasih dan tetap memelukku.
Chris mengatakan kalau ia sangat berduka atas kepergian papaku. Ia memelukku, pelukan seorang ayah… mengingatkan aku pada pelukan papa setiap aku datang ke Serang. Chris mengurus banyak hal, ia menelpon Department di kampus, meminta Neil mengantarku dan Farid ke station Tiverton Parkway dan banyak hal lainnya tentang sekolahku. Perjalanan Devon ke Egham butuh waktu sekitar 4 jam dimana 2 jam naik mobil dari Devon ke Tiverton dan 2 jam naik kereta dari Tiverton ke Egham (Royal Holloway). Selama perjalanan.. aku gusar, mengantuk, kelelahan dan mataku pedih… Jesus Christ, aku memanggil2 nama-Nya..
Banyak tangan2 baik yang Tuhan kirimkan untuk menolongku… terkadang aku sungkan, tapi kemudian aku mensyukurinya. Teman2 di University juga memberikan kata2 penghiburan buatku. Banyak email dari teman, keluarga dan rekan2…Ini sangat membantuku untuk ingat bahwa Tuhan mencintaiku…
…TUHAN yang memberi, TUHAN yang mengambil, terpujilah nama TUHAN! (Ayub 1:21)
Papaku sayang… papa bertemu Bapa di Surga. Ini yang membuatku penuh harapan, suatu waktu kita akan berkumpul dengan Bapa di Surga, bercerita tentang hidup yang baru yang Tuhan sediakan bagi orang2 yang mengasihi-Nya. Selamat jalan, papa. Aku mencintaimu…
Acknowledgement
Terimakasih kepada:
My Lord Jesus Christ, beloved Pasaribu family, Jhon Johanes Wood, BP Indonesia, Aspac Exploration & Renewal, BP Sunbury, Department of Geoscience Royal Holloway Univ.of London, Jhon & family , Efataers, Team Doa pagi 6.30, Rob Humphreys & family, Pak Chandra & family. Biblefellowship of GKI PI (jumaters), MSc Petroleum Geoscience 2008 (Basin Evolution & Tectonic), HABOGO Kab. Dairi, HMTG-GEA ITB..
dan semua pihak yang belum disebutkan namanya, yang telah memberikan dukungan doa dan materiil selama masa perawatan papa. Thank you very much, God bless you all.

De aku turut berduka cita atas meninggalnya Papamu. Tapi aku yakin dari tulisanmu, meskipun kamu sedih tapi kamu betul-betul berserah sama Tuhan dan merelakan kepergian Papamu dan bukannya menjadi patah semangat. Tulisan pertama yang kubaca waktu membuka blogmu adalah berita duka ini. Dan aku harap bisa memberimu kekuatan dan penghiburan dari tempat yang jauh ini. GBU always.
By: lambok on October 17, 2008
at 10:45 am
Berharga dimata Tuhan kematian semua orang yang dikasihi-Nya ( Mazmur 116:15).
Ito Dumex, saya turut berduka atas meninggalnya papa terkasih. Saya pernah bertemu dan berbicara dengan papamu sewaktu dibandara soekarno hatta meskipun waktunya hanya sebentar. Sosok papa yang saya lihat sangat baik, santun dan bertanggung jawab dengan anaknya khususnya Dumex borunya. Dumex juga saya lihat pada saat itu sangat bertanggung jawab selaku anak terhadap orang tua/papamu sewaktu Dumex menjemput papa dan keponakanmu saat itu, saya lihat sendiri bagaimana Dumex menyiapkan taxi dan menuntun papa pada saat itu. You are a “precious bataks” woman. Bapak pasti senang punya boru sepertimu dan pasti sangat bangga padamu. Saya yakin, Dumex sudah melakukan dengan taat Titah ke-5 ( patik V) sehingga Dumex tetap diberkatiNya.
Dan saya yakin juga kalau bapak pergi kesisi Tuhan dengan sukacita dan dalam damai sejahtera.
Dumex, silahkan bersedih tapi jangan larut ya. Tuhan Yesus mengasihimu dan bahkan sangat.
By: Busmin Silaen on October 17, 2008
at 2:46 pm
Dumex….
My deep condolence goes to your beloved Papa. We find it very hard to take. Keep your spirits up, Mex…
He was gratefully blessed by God with a lovely family and you, as a success daughter.
Let your Papa proud of your tremendous achievements…
…then
he keeps smiling at you from heaven
By: ratna widiarti on October 20, 2008
at 12:40 am
Dear Dumex,
I can’t read much of you blog, but it is very moving. Such a lovely picture of you with your parents. I do hope that you have found it a comfort to be back home. Farid tells me that you are planning to come back on Saturday, but please only do this if you feel ready to do so. I am sorry that I won’t be there when you do come back, but I will be back on 3 November, and I look forward to seeing you then. In the meantime, you remain in our thoughts and our prayers.
With best wishes
Chris
By: Chris Elders on October 22, 2008
at 4:52 pm
cerita yang sangat mengharukan…i almost cry reading your story,mex.. aku mengenal bapatua seorang ayah yang luar biasa.begitupun dengan anak2nya..yah,aku juga yakin bapatua sudah di sorga sekarang bersama dengan Bapa Sorgawi..dia pasti bangga mex, dan dia pasti tersenyum..dia bangga memilikimu dan dia telah berhasil melakukan tugas sebagai seorang ayah selama di bumi..
Biarlah kesedihan ini tidak berlarut2 terhadap kamu dan keluarga, aku pribadi mengucapkan turut berduka sedalam2nya…aku tau perjuanganmu,aku tau jalan hidupmu dan aku berdoa supaya mex terus berjuang, jangan menyerah dan masih banyak teman2 dan saudara yang siap membantumu kapanpun…
Tuhan berkati kamu dan keluarga.
salam
Lim.
By: lim on October 25, 2008
at 3:29 am
Kakak…
tetap tabah yaa…
Aku percaya kakak pasti mampu menghadapi semuanya…
coz u’re one of the strongest women i ever meet…
I miss u so much ka…
hari2 yang qta lalui dengan banyak hal byk bgt ngebantu aku selama ini…
thanx ya ka…
Jesus love you…
By: Ade bungsuu.. on October 25, 2008
at 8:23 am
Lambok, makasih banyak yah..kita udah lama sekali ngga ketemu tapi perhatian yang kamu berikan sebagai sahabat masih tetap seperti dulu.
Kiranya Tuhan memberkatimu. Kita saling mendoakan yah..
Salam,
Dumex
By: dumexpasaribu on October 27, 2008
at 4:21 am
Bang Busmin..trimakasih atas dukungan dan perhatiannya. Kita bertemu sebentar saja waktu di Soekarno Hatta Airport dan papa (alm) sempat ngobrol kan sama abang?…dan itu adalah kenangan yang indah tentang papa yang kujemput di Airport awal bulan Juli lalu.
Saat ini aku sedang pergumulan besar untuk tidak menangis kalo ingat papa…Saling mendoakan ya bang.
Kiranya Tuhan memberkati abang juga.
Thank you very much.
Salam,
Dumex
By: dumexpasaribu on October 27, 2008
at 4:26 am
Dear Wiwid (Ratna Widiarti), thanks a lot for your support and hopes. I can’t stop crying, this is a difficult situation for me. But you have given a deep touching to my heart. Thanks wid..
God be with you too.
Regards,
Dumex
By: dumexpasaribu on October 27, 2008
at 4:44 am
Dear Chris,
I really appreciate your willingness to read it even I wrote it in Bahasa Indonesia..
I was in panic and confused situation when I had got the news in Devon last two weeks, but you have comforted me to share my deepest feelings at that time. You are very helpful and dedicated teacher (and also friend)…and you know, I could see my lovely father for the last time and attended the funeral ceremony in my hometown.
I’m still not used to live in this circumstances, but my family support me to continue/finish the MSc course. I arrived in Egham yesterday. Please help me, I will try to do my best…
Chris, Thank you very much for your helps, prayers and supports. God bless you.
Best regards,
Dumex
By: dumexpasaribu on October 27, 2008
at 5:10 am
Lim, aku saat itu tidak bisa berpikir dgn jernih sehingga lupa menyampaikan berita duka itu. Aku juga kehilangan HP dan tidak bisa menghubungi teman2..
Terimakasih yah atas dukungan doamu. Kita telah banyak berbagi dan tahu bagaimana Tuhan menolong kita melewati masa2 suka dan duka. Sekalipun aku masih belum bisa menjalani masa terhilang ini, tapi pengharapan pada Tuhan akan menjadi komitmen hidupku.
Terimakasih sudah menolongku selama ini dan juga sudah menyampaikan berita itu pada Navigator ITB (walau mereka mungkin tidak menyadari hal itu). Tetap saling mendoakan ya Lim. Tuhan memberkati.
Salam,
Dumex
By: dumexpasaribu on October 27, 2008
at 5:36 am
Ade bungsu (Gusmarina Tampubolon),
Makasih ya dek.. banyak hal yang tidak kita mengerti dalam perjalanan hidup ini. Kakak juga belajar banyak dari tiap pergumulan yang Tuhan berikan. kakak juga bangga padamu, yang mendukung kakak dalam banyak situasi. Kita saling mendoakan ya dek. Selamat belajar dan menjalani masa TA. Jesus loves you too.
Salam,
Kakak
By: dumexpasaribu on October 27, 2008
at 5:40 am
Dear all, who read this blog even didn’t leave message..
From the blogstats, I find there are some people have read this blog and sympathize with me.
Thanks a lot, my God bless you.
regards,
Dumex Pasaribu
By: dumexpasaribu on October 27, 2008
at 5:47 am
Hai Dumex, turut berdukacita. Terima kasih untuk sharingnya yang sangat memberkati. Dan sebuah kesimpulan yang luar biasa, bahwa apapun yang terjadi… terpujilah Tuhan.
Salam,
Atur
By: atur on October 27, 2008
at 6:59 am
Bang Atur, terimakasih banyak atas dukungannya. Saling mendoakan yah bang..Kiranya Tuhan memberkati abang juga.
Salam,
Dumex
By: dumexpasaribu on October 27, 2008
at 7:37 am
Dumex turut berbela sungkawa yang sebesar-besarnya atas meninggalnya papa kamu. semoga kejadian semakin mengingatkanmu bahwa kuasa Tuhan mutlak dalam hidup setiap manusia. kita hanya bisa berharap dan meminta tapi Tuhan tahu yang terbaik bagi hidup kita.
By: Roni Sinaga on October 27, 2008
at 9:28 am
Kak,turut berdukacita ya. Sampai mw nangis baca postingan kakak. Pasti sangat berat kak. Tapi aku percaya ini semua karena Tuhan Yesus sangat menyayangi kakak. Tetap semangat kak, karena kakak akan selalu menjadi boru kebanggaan papa terkasih. Tuhan memberkati dan be with u forever kak.
Mungkin kakak tidak ingat aq, tapi aq pernah datang ke kosan kakak, mw ketemu ama chessy. Ingat waktu di kamar itu juga ada kak sisil. Aq kenal kakak karna sama2 uksu jg kak.
dan DIA selalu peduli….
By: Rebecca Simanungkalit on October 27, 2008
at 11:41 am
Kak.. ikut berduka cita juga.. sama kyk kak bekha.. mw nangis rasanya..
Selamat berjuang.. You’ve given me spirit to do the best in every move in my life..
God Bless You always…
By: Iyet on October 30, 2008
at 5:36 am
Bang Roni, terimakasih banyak bang..yah semoga ini semakin menguatkan hati saya bahwa Tuhan mengasihi anak2Nya. Tuhan memberkati.
Salam,
Dumex
By: dumexpasaribu on October 30, 2008
at 8:14 am
Dek Bekha..tapi kita jarang bertemu yah? jadi kakak tidak begitu ingat face-nya, kakak masih ingat waktu kamu dan Sisil datang ke siliwangi dalem 3 dan kamu juga teman dek dora dan dek goes kan..
Makasih yah dek untuk dukungan doamu..pergumulan yang kakak jalani, semoga semakin menguatkan kakak dan juga memberikan berkat bagi banyak orang.
Selamat belajar dek..kakak percaya, bersama Tuhan kita bisa melewati banyak hal ajaib.
Tuhan memberkati.
Salam,
kakak
By: dumexpasaribu on October 30, 2008
at 8:20 am
Dek Iyet, kita juga jarang ketemu yah? tapi kakak sering denger persahabatan kalian dengan dek dora, cesy dan goes… terimakasih sudah menjadi teman yang baik..
Perjalanan hidup yang kakak lalui saat ini memang terasa sulit, merasa segala sesuatunya kurang tepat..tapi apakah yang bisa diperbuat oleh hasil ciptaan terhadap penciptanya? sperti bejana ditangan seorang Potter, Potter akan membuatnya sedemikian rupa seturut kehendak-Nya.
Semoga ini bisa menguatkan kakak dan memberi berkat bagimu juga. Selamat belajar ya dek, Tuhan memberkati.
Salam,
Kakak
By: dumexpasaribu on October 30, 2008
at 8:27 am
Turut berdukacita ya Mex,
Tuhan kiranya menghibur dan menguatkan dumex sekeluarga.
“sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya sebab Tuhan besertaku ”
“ho tongtong ihuthononku, Jesus sipangolu ahu..
tung na so tadingkononku, ho na paluahon ahu..
sian sasude dosangku dohot sian uhum i.. ”
God Bless You Mex. Keep Striving and Be Strong!
By: oinike hutasoit on November 3, 2008
at 2:23 am
Dumex, turut berduka ya, aku baru saja mengetahui kabar ini. Kiranya Roh Kudus yang menjadi penghibur yang kekal dan Tuhan menguatkanmu.
Salam!
By: Sondar Simanullang on November 25, 2008
at 8:12 am
mex, turut berduka.tetap jalani hidup dengan DIA, semangat. God bless all of us.sory kalau aku dah pernah buat salah. enjoy your life..
By: tamba p sirait on November 26, 2008
at 2:10 pm
Kak Oinike,
Makasih atas dukungan dan doa2nya, ini sangat membantuku. Aku suka sekali lagu itu, Ho tongtong ihuthononku, Jesus Sipangolu au..
Really appreciate your prayers,,
Gbu sista..
Dumex
By: dumexpasaribu on November 28, 2008
at 11:17 pm
Bang Sondar,
Trimakasih atas dukungan doanya, kiranya Tuhan Yesus yang menyertai abang juga dalam perjalanan hidup.
GBU,
Dumex
By: dumexpasaribu on November 28, 2008
at 11:18 pm
Tamba,
makasih yah atas dukungan kamu, hopefully you feel much better than some months ago. thanks brother.
GBU,
Dumex
By: dumexpasaribu on November 28, 2008
at 11:19 pm
i still remember you..how about you?
By: f on August 5, 2009
at 5:21 pm
Hi..sorry, initialnya ‘f’ ? frans? thanks
By: dumexpasaribu on August 8, 2009
at 12:40 am
Ya Allah, Bapa yang penuh kasih sayang, kami bersyukur kepada-Mu atas orangtua kami. Lewat mereka Engkau telah menciptakan kami. Melalui kasih sayang mereka, Engkau menyayangi kami. Mereka mendidik, mendampingi, dan menuntun kami. Mereka membesarkan kami dan menjadi sahabat kami.
Berkatilah mereka senantiasa. Berilah mereka kesabaran. Terangilah akal budi mereka supaya mereka selalu bertindak bijaksana. Berilah mereka kesehatan agar tetap mampu menjalankan tugas mereka sebagai pembina keluarga. Berilah rezeki secukupnya untuk kami semua; dan hindarkanlah orangtua kami dari marabahaya. Sempurnakanlah kasih mereka satu sama lain, sehingga mereka dapat menjaga kelestarian perkawinan, dan tetap setia pada janji perkawinan mereka.
Semoga mereka dapat menjalankan tugas dengan baik bagi gereja, masyarakat, dan keluarga. Buatlah keluarga menjadi Gereja kecil yang selalu mengasihi-Mu dan mengasihi Yesus, Putra-Mu.
Kami mohon pula berkat-Mu untuk semua orangtua, yang dengan rela dan penuh tanggung jawab telah menjalankan tugas selaku orangtua atas anak-anak mereka. Semoga pengorabnan mereka tidak sia-sia. Bila mereka menghadapi kesulitan dan tantangan, sudilah Engkau menunjukan jalan keluar yang diperlukan. Jangan biarkan mereka merana karena kegetiran hidup.
Kami berdoa pula bagi para orangtua yang sering dilupakan oleh anak-anak mereka. Sudilah Engkau menghibur dan menguatkan hati mereka. Teristimewa kami berdoa bagi para orangtua yang merasa gagal dalam membangun keluarga dan mendidik anak-anak. Semoga kepedihan ini tidak membuat mereka putus asa, tetapi semakin menyadarkan mereka untuk senantiasa bersandar pada-Mu.
Bapa, semua permohonan ini kami unjukan kepada-Mu demi Yesus Kristus Putra-Mu, yang menjadi teladan kami dalam menghormati dan mengasihi orangtua. Dialah pengantara kami untuk selama-lamanya. Amin
By: jons on December 13, 2010
at 12:05 pm
SYALOM DE. Kakak tak sengaja, buka facebookmu, dan kenangan bpk tua tercinta hadir lg di benak kakak. air mata pun meengalir. meeski sdh berlalu 3 thn, rasanya msh sperti kemarin, dan……….itu membuat kakak rindu liat senyum mu. I love you sister.
By: Tetty on March 30, 2012
at 6:51 am